Selamat Datang..
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2025

Bupati Asahan Resmikan Replika Rumah Adat Syekh Silau; Makna Sejarah

Marga Silo, yang kini dikenal dengan nama besar Siregar Silo dan Damanik Silo, memiliki jejak sejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan budaya dan agama di wilayah Sumatera. Salah satu tempat yang kental dengan jejak sejarah ini adalah Desa Silo Lama, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, yang baru-baru ini mencatatkan momen bersejarah melalui peresmian Replika Rumah Adat Tuan Syekh Silau oleh Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin Siregar. Acara yang dilaksanakan pada Sabtu (5/4/2025) ini, bukan hanya sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga mengungkapkan hubungan penting antara nama tempat Silau di Asahan dengan marga Silo yang memiliki sejarah panjang.

Pembangunan replika rumah adat Tuan Syekh Silau di Desa Silo Lama ini merupakan langkah penting dalam menjaga warisan budaya yang ada di Kabupaten Asahan. Tuan Syekh Silau sendiri adalah seorang tokoh penting dalam perkembangan agama Islam di daerah tersebut. Pembangunan replika rumah adat ini diharapkan dapat memperkuat ingatan masyarakat akan jasa-jasa besar Tuan Syekh Silau dalam menyebarkan ajaran Islam di kawasan tersebut. Selain itu, pelestarian bangunan ini bertujuan untuk mengenang peran besar dari Tuan Syekh Silau dalam sejarah peradaban lokal.

Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin Siregar, dalam sambutannya menekankan bahwa pelestarian budaya sangat penting agar nilai-nilai sejarah dan kebudayaan tidak hilang seiring perkembangan zaman. Ia menyatakan bahwa pembangunan Replika Rumah Besar Tuan Syekh Silau adalah salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan dan melestarikan budaya yang ada di Asahan, khususnya yang berkaitan dengan marga Silo dan sejarah penyebaran Islam di kawasan tersebut.

Nama Silo yang terhubung dengan Desa Silo Lama, tempat di mana replika rumah adat dibangun, menyiratkan hubungan erat antara marga Silo dengan sejarah panjang daerah ini. Marga Silo, dengan cabang-cabangnya seperti Siregar Silo dan Damanik Silo, dikenal sebagai bagian dari keluarga besar yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah Tapanuli dan Asahan, terutama dalam penyebaran agama Islam. Oleh karena itu, pembentukan identitas budaya melalui pembangunan replika ini menjadi sarana untuk mengenalkan kembali warisan tersebut kepada generasi muda.

Salah satu aspek menarik dalam sejarah marga Silo adalah kemungkinan hubungannya dengan nama tempat Silau di Asahan, yang juga mengarah pada peran penting dari Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan Samudera Pasai adalah salah satu kerajaan Islam pertama di Sumatera yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di seluruh kawasan Sumatera, termasuk daerah-daerah sekitar Barumun, Tapanuli, dan sekitarnya. Nama Silau yang kini terdapat di Asahan kemungkinan besar berasal dari kata atau istilah yang digunakan pada zaman Kesultanan Pasai, yang mungkin merujuk pada tempat atau daerah yang memiliki kaitan dengan kerajaan tersebut.

Keterkaitan nama Silau di Asahan dengan Kerajaan Samudera Pasai menjadi semakin menarik mengingat sejarah penyebaran Islam yang dibawa oleh para penyebar agama dari Pasai. Tuan Syekh Silau, sebagai salah satu tokoh yang diabadikan melalui replika rumah adat ini, diyakini juga terlibat dalam penyebaran Islam di daerah tersebut, yang kemudian diikuti oleh keluarga-keluarga besar seperti marga Silo. Nama Silo sendiri, yang juga ditemukan dalam berbagai varian seperti Siregar Silo dan Damanik Silo, menunjukkan adanya hubungan kuat antara marga ini dan sejarah panjang Islam di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, Taufik Zainal Abidin Siregar juga menyoroti pentingnya pelestarian cagar budaya sebagai sumber ilmu alternatif yang dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai sejarah dan kebudayaan lokal. Dengan adanya replika rumah adat Tuan Syekh Silau, diharapkan masyarakat tidak hanya mengenal tokoh tersebut, tetapi juga memahami betapa besar peran mereka dalam membangun peradaban dan agama di daerah tersebut.

Pembangunan Replika Rumah Adat Tuan Syekh Silau ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga berpotensi sebagai daya tarik wisata sejarah yang dapat mendongkrak ekonomi lokal. Pemerintah Kabupaten Asahan berharap bahwa dengan adanya tempat ini, wisatawan akan tertarik untuk mengunjungi dan mengenal lebih dekat dengan sejarah dan budaya Asahan, khususnya yang berkaitan dengan marga Silo dan pengaruh Kerajaan Samudera Pasai di daerah ini.

Replika rumah adat ini juga menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menjaga nilai-nilai budaya yang ada di Asahan. Seiring dengan pertumbuhan pariwisata dan ekonomi lokal, diharapkan semakin banyak pihak yang mendukung pelestarian cagar budaya. Sehingga, upaya-upaya seperti ini dapat memperkenalkan lebih banyak masyarakat, baik lokal maupun internasional, terhadap sejarah panjang marga Silo dan peran penting mereka dalam sejarah Islam di Sumatera.

Tuan Syekh Silau, meskipun tidak banyak tercatat dalam sumber sejarah mainstream, memiliki pengaruh yang besar dalam masyarakat lokal. Tokoh ini dipercaya memiliki hubungan yang erat dengan penyebaran agama Islam di kawasan Asahan dan sekitarnya, yang saat itu berada di bawah pengaruh Kerajaan Samudera Pasai. Keberadaan nama Silo dalam masyarakat Tapanuli Selatan dan sekitarnya juga menunjukkan adanya hubungan antara tokoh ini dan keluarga-keluarga besar yang memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan agama di wilayah tersebut.

Selain itu, dengan adanya Replika Rumah Adat Tuan Syekh Silau, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai dan mengenal lebih dalam tentang sejarah mereka sendiri. Melalui kegiatan edukasi dan wisata sejarah, pengunjung akan semakin memahami betapa besar pengaruh tokoh-tokoh seperti Tuan Syekh Silau dalam membentuk wajah agama dan budaya di Asahan. Hal ini juga dapat menjadi langkah penting dalam mengenalkan lebih luas lagi kepada dunia luar tentang kekayaan budaya yang dimiliki oleh daerah ini.

Marga Silo, yang kini tersebar di berbagai wilayah di Sumatera, menjadi saksi sejarah yang menunjukkan pentingnya peran keluarga-keluarga besar dalam pembentukan sejarah sosial dan agama di kawasan ini. Dengan adanya upaya pelestarian budaya seperti yang dilakukan melalui pembangunan replika rumah adat ini, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal dan menjaga warisan leluhur mereka. Ke depan, langkah-langkah seperti ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah-daerah lain dalam melestarikan budaya dan sejarah mereka.

Hubungan antara marga Silo, Silau, dan Kerajaan Samudera Pasai semakin jelas melalui pengungkapan jejak sejarah ini. Replika Rumah Adat Tuan Syekh Silau menjadi titik awal yang penting dalam menghubungkan masa lalu dengan masa depan, sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan dan memperkenalkan sejarah keluarga besar seperti Siregar Silo dan Damanik Silo kepada masyarakat luas.

Senin, 01 Agustus 2022

Siapa Tokoh Tuan Lobe Disebut Ulama Penyebar Islam di Simalungun yang Dimakamkan di Keramat Kubah Pandan Perdagangan?

Sebuah kompleks pemakaman yang disebut Keramat Kubah Pandan di Perdagangan, Simalungun memicu keingin tahuan warganet mengenai sosok Tuan Lobe yang disebut dikuburkan di sana.

Dinukil dari berbagai sumber, kompleks pemakaman ini telah berusia ratusn tahun yang membuktikan bahwa para ulama dan Islam telah lama berdakwah di Simalungun.

Dari segi sejarah, Islam di Simalungun dikenal telah dibawa oleh orang Aceh di era Samudera Pasai maupun orang pesisir dari Medan, Barus, Tanjung Balai maupun Asahan.

Tidak ada yang mengenal nama asli tikoh bergelar tuan lobe ini. Nama atau gelar Tuan Lobe sendiri sudah lama dikenal di Tanah Batak dan sekitarnya termasuk Simalungun, Mandailing, Karo maupun Pakpak Dairi yang berarti guru agama Islam sejak lama.

Jejak para tuan Lobe ini masih terlihat di dalam beberapa bukti silsilah atau tarombo/tambo yang dimiliki oleh orang Batak 

Namun jika melihat sejarah Simalungun, sejak tahun 1451 telah ada tuan guru atau syeikh yang disegani khususnya di kawasan Perdagangan bernama Datuk Sahilan. (Baca selengkapnya) Saat itu Simalungun berada dalam pengaruh Kerajaan Pagaruyung dari Sumatera Barat dan masih berhubungan dengan ekspedisi Pamalayu Majapahit pada masa Adityawarman.

Datu Sahilan merupakan salah satu dai perintis di Simalungun yang mempunyai jaringan ulama sampai ke India, Malaysia dan lain sebagainya. (Baca selengkapnya).

Mungkinkah Tuan Lobe yang dimakamkan di kompleks pemakaman Keramat Kubah Pandan, Perdagangan Simalungun ini adalah Datuk Sahilan?

Minggu, 28 Oktober 2018

Presiden @Jokowi Kecam Serangan Rudal Israel yang Hantam RS Indonesia di Gaza

ilustrasi
STUDY IN ASAHAN -- Serangan rudal Israel mengenai bangunan Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Jalur Gaza, Palestina. Presiden Jokowi mengecam keras serangan tersebut.

"Ya kita tahu, rumah sakit itu rusak dan Indonesia mengecam, mengecam keras serangan Israel di tanggal 27 Oktober kemarin," ujar Jokowi saat ditemui usai melepas Kirab Santri dan Jalan Sehat Sahabat Santri di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (27/10/2018).

Kecaman itu diutarakan Jokowi karena tidak hanya mengenai Rumah Sakit Indonesia tersebut, tetapi juga merusak rumah warga.

"Karena tidak juga merusak rumah sakit kita, tetapi juga wilayah sekitar juga sama," katanya.

Meski Jalur Gaza terus dihantam serangan rudal Isrel, Presiden Jokowi menegaskan, Indonesia akan tetap bersama Palestina.

"Indonesia tetap dan akan selalu di belakang bangsa Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya, enggak ada kata mundur untuk itu!" tegasnya.

Serangan rudal Israel itu terjadi di wilayah Bayt Lahiya, dekat dengan Rumah Sakit Indonesia sejak JUmat (26/10) malam. Relawan Indonesia yang bertugas di wilayah tersebut, Reza Aldilla menyebut ada 5 rudal yang jatuh di Bayt Lahiya.

Hantaman rudal di di wilayah tersebut menyebabkan guncangan kuat sehingga merusak bagian bangunan RS Indonesia. Ruangan yang mengalami kerusakan menurut Reza adalah ruang kantor administrasi, koridor, ICU dan toilet. (sumber)

Minggu, 18 Maret 2018

Foto Jadul dan Kini @HNurwahid dan #UstadzAbdulSomad

STUDY IN ASAHAN -- Foto jadul tokoh nasional Hidayat Nurwahid dan Ust Abdul Somad (UAS) beredar di dunia maya saat keduanya bertemu di Maroko.

Foto keduanya diunggah oleh sebuah akun yang berdumber dari akun instagram UAS.

Saat itu UAS masih sebagai mahasiswa di Maroko.

Berikut penampakannya:


Rabu, 28 Februari 2018

Makna Gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara Bagi #UstadzAbdulSomad

Ustaz Abdul Somad Lc MA mengatakan pemberian gelar adat Datuk Seri Ulama Setia Negara kepada dirinya ada beberapa makna dalam nama tersebut.

"Ini pemberian gelar adat kepada anak jati Riau yang banyak diragukan di media sosial," kata Ustaz Abdul Somad yang akrab disapa UAS kepada CAKAPLAH.com, Selasa (20/2/2018) usai penambalan gelar agar di Balai Adat LAM Riau, jalan Diponegoro, Pekanbaru.

Dengan adanya penambalan gelar adat LAM Riau kepala dirinya, itu menunjukan bahwa ini ia merupakan anak jati Riau dan anak bangsa yang cinta negeri ini.

"Di balik makna nama itu pertama ada pembelaan, kedua ada tanggung jawab yang besar supaya kita tetap cinta negeri ini. Bukan hanya sekedar teriak cinta-cinta, tapi apa buktinya (cinta negeri)," ujarnya.

Makna ketiga, penambalan gelar adat oleh dirinya adalah semangat bagi dai-dai baru. Karena UAS melihat sekarang ini tidak ada lagi orang yang bercita-cita menjadi Ustaz, dan tidak peduli lagi terhadap agama.

Selanjutnya

Ketika #UstadzAbdulSomad Mendapat Gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara

Prosesi pemberian gelar dan penabalan Ustadz Abdul Somad di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau berlangsung khidmat.

11 tokoh penting Melayu ikut memberi tepuk tepung tawar kepada ustadz kondang tersebut Selasa (20/2/2018).

Diantara tokoh tersebut perwakilan dari kerajaan di Riau mulai dari Kerajaan Siak, Indragiri, Pelalawan, Kampar, dan beberapa tokoh masyarakat penting lainnya seperti Syarwan Hamid dan Mustafa Umar.

"Ada 11 orang yang akan menepung tawari. Sudah kita jemput secara resmi dengan membawa tepak ke rumahnya tiga hari terakhir ini. Yang menepung tawari itu tokoh-tokoh adat seperti Tengku Kamarudin Harun dari Pelalawan, Tengku M Nizar dari Gunung Sahilan dan beberapa tokoh adat lainnya. Juga ada ulama seperti Mustafa Umar LC MA," ujar Al Azhar.

Acara pemberian gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara pada Ustadz Abdul Somad sendiri dihadiri ribuan masyarakat di Gedung LAM Riau. (sumber)

Jumat, 22 Januari 2010

Sejarah Inalum

Setelah upaya memanfaatkan potensi Sungai Asahan yang mengalir dari Danau Toba di Propinsi Sumatera Utara untuk menghasilkan tenaga listrik mengalami kegagalan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pemerintah Republik Indonesia bertekad mewujudkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sungai tersebut.

Tekad ini semakin kuat ketika tahun 1972 pemerintah menerima dari Nippon Koei, sebuah perusahaan konsultan Jepang laporan tentang studi kelaikan Proyek PLTA dan Aluminium Asahan. Laporan tersebut menyatakan bahwa PLTA laik untuk dibangun dengan sebuah peleburan aluminium sebagai pemakai utama dari listrik yang dihasilkannya.

More
 
Back To Top
Distributed By Blogger Templates | Designed By OddThemes